Ciri Khas Organisasi Sarekat Islam – Artikel ini telah dikutip tetapi tidak disertai kutipan yang cukup. Anda dapat membantu menyempurnakan artikel ini dengan menambahkan lebih banyak kutipan pada teks artikel. (Mei 2019) (Pelajari bagaimana dan kapan menghapus pesan template ini)

Lihat kebijakan keamanan dan log keamanan kami untuk informasi lebih lanjut. Jika Anda tidak dapat mengedit artikel ini dan ingin melakukannya, Anda dapat meminta pengeditan, mendiskusikan perubahan yang ingin Anda lakukan di halaman pembicaraan, meminta penghapusan perlindungan, masuk, atau membuat akun.

Ciri Khas Organisasi Sarekat Islam

Syarikat Islam (disingkat SI) atau Sarekat Islam yang dahulu dikenal dengan nama Sarekat Dagang Islam (disingkat SDI) didirikan pada tanggal 16 Oktober 1905 oleh Haji Samanhudi. SDI merupakan organisasi pertama yang lahir di Indonesia, awal mula organisasi yang diciptakan oleh Haji Samanhudi dan kawan-kawan adalah perkumpulan para pedagang Islam yang menentang kebijakan Belanda yang memperbolehkan pedagang asing masuk dengan leluasa dan menguasai kerah ekonomi rakyat di saat ini. Pada Kongres SDI pertama di Solo tahun 1906, namanya diubah menjadi Liga Islam. Pada tanggal 10 September 1912, karena situasi politik dan sosial saat itu, H.O.S. Tjokroaminoto datang di hadapan notaris B. ter Shrile di Solo untuk mendirikan Masyarakat Islam sebagai badan hukum dengan konstitusi baru SI, yang kemudian diakui dan disahkan oleh pemerintah Belanda pada tanggal 14 September 1912. H.O.S. Tjokroaminoto mengubah kewenangan SDI menjadi lebih luas, yang sebelumnya hanya mencakup isu-isu ekonomi dan sosial. kepada politik dan agama untuk menyumbangkan semangat perjuangan Islam dalam semangat perjuangan rakyat melawan kolonialisme dan imperialisme pada masa itu. Selanjutnya karena perkembangan politik dan sosial, SI menjelma menjadi organisasi pergerakan yang beberapa kali berganti nama, yaitu Sarekat Islam Pusat (disingkat CSI) pada tahun 1916, Partai Sarekat Islam (PSI) pada tahun 1920, Partai Sarekat Islam Hindia Timur. PSIHT) pada tahun 1923, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) pada tahun 1929, Syarikat Islam (SI) pada tahun 1973 karena keluar dari Majelis Tahkim ke-33 pada tahun 1972 di Majalaya dan pada Majelis Tahkim (kongres nasional) ke-35 di Garut pada tahun 2003 dan namanya adalah berubah menjadi Syarikat Islam (disingkat SI). Setelah kongres tersebut, keberadaan dan pergerakan Syarikat Islam yang masih eksis dan berlanjut hingga saat ini disebut Syarikat Islam. Pasca Majelis Tahkim ke-40 di Bandung, Jawa Barat dengan terpilihnya Ketua Umum Hamdan Zoelwa yang kemudian dikukuhkan menjadi Ketua Umum pada Majelis Tahkim ke-41 di Solo, Jawa Tengah pada tahun 2021.[1]

Baca Juga  Apa Fungsi Kertas Karton Dalam Membuat Topi Dari Bulu Ayam

Kajian Islam 1

Ada beberapa versi mengenai tanggal berdirinya Asosiasi Perdagangan Islam, tergantung siapa pendiri pertama. Berdasarkan pendapat Samanhudi yang diungkapkan pada tahun 1955 kepada Tamar Jaja dan ditulis dalam Majalah Daulah Islamiyah No.1 Januari 1957, ia menyatakan mendirikan SDI pada tanggal 16 Oktober 1905.

Namun jika menurut versi pendiri SDI adalah Tirto Adhi Soerjo, maka SDI memulai pertemuan pertamanya pada tanggal 27 Maret 1909 di rumahnya di Buitenzorg. Namun organisasi ini baru resmi berdiri ketika mempunyai dua cabang di Batavia dan Buitenzorg pada tanggal 5 April 1909. Sebelumnya. Soerjo sendiri mendirikan Sarekat Priyayi pada tahun 1906 yang tujuannya adalah untuk menampung penduduk asli dan mendirikan dana studi atau lembaga bantuan pendidikan yang terpusat di Betawi untuk kemajuan penduduk asli.

Tujuan awal SDI adalah mempertemukan para saudagar muslim lokal (khususnya saudagar batik) untuk bersaing dengan saudagar besar Tionghoa. Saat itu, para saudagar asal Tionghoa ini mempunyai usaha yang lebih maju serta mempunyai hak dan status yang lebih tinggi dibandingkan warga Hindia Belanda lainnya. Kebijakan ini sengaja dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda dan kemudian menimbulkan perubahan sosial akibat bangkitnya kesadaran masyarakat setempat yang biasa disebut dengan Inlander.

SDI merupakan organisasi ekonomi yang berlandaskan Islam dan perekonomian kerakyatan sebagai penggeraknya. Di bawah kepemimpinan H. Samanhudi, perkumpulan ini berkembang pesat hingga menjadi perkumpulan yang berpengaruh. R.M. Tirtoadisurjo pada tahun 1909 mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah di Batavia. Pada tahun 1910 Tirtoadisuryo mendirikan organisasi lain di Buitenzorg. Begitu pula di Surabaya H.O.S. Tjokroaminoto mendirikan organisasi yang sama pada tahun 1912. Tjokroaminoto bergabung dengan SI bersama Hasan Ali Surati, seorang pria asal India yang kemudian mengelola keuangan surat kabar SI, Oetsan Hindia. Tjokroaminoto kemudian terpilih menjadi pemimpin dan mengubah nama SDI menjadi Sarekat Islam (SI). Pada tahun 1912, pemimpin baru Haji Oemar Sa Thekroamino mengubah nama SDI menjadi Sarekat Islam (SI). Hal ini dilakukan agar organisasi tidak hanya terlibat di bidang ekonomi saja, namun juga di sektor lain seperti politik. Jika melihat ketetapan, dapat dikatakan bahwa tujuan SI adalah:

Tugas Sejarah (riska N 11 Mipa 8) Pdf

SI tidak membatasi anggotanya hanya pada masyarakat Jawa dan Madura. Tujuan SI adalah membangun persaudaraan, persaudaraan dan gotong royong antar umat Islam serta mengembangkan perekonomian umat. Keanggotaan SI terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat Muslim. Ketika SI menawarkan diri menjadi badan hukum, Gubernur Jenderal Enburg menolak. Badan hukumnya hanya diberikan kepada SI setempat. Meskipun tidak ada unsur politik yang terlihat dalam konstitusi perkumpulan tersebut, dalam aktivitasnya SI mempertimbangkan unsur politik dan menentang ketidakadilan dan penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. Artinya SI mempunyai jumlah anggota yang banyak sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi pemerintah Belanda.

Baca Juga  Tuliskan Apa Harapanmu Untuk Layanan Perlindungan Anak

Seiring perkembangan zaman, SI pusat akhirnya diakui sebagai badan hukum pada bulan Maret 1916. Setelah pemerintah mengizinkan berdirinya partai politik, SI menjadi partai politik dan mengirimkan wakilnya ke Volksraad pada tahun 1917 yaitu HOS Tjokroaminoto; Dan Abdoel Moeis yang juga anggota CSI merupakan anggota Volksraad atas namanya sendiri berdasarkan karakternya dan tidak mewakili SI Pusat seperti HOS Tjokroaminoto yang merupakan tokoh Persatuan Islam Pusat. Namun Thecroaminoto tidak bertahan lama di lembaga yang dibentuk oleh pemerintah Hindia Belanda, ia keluar dari Volksraad (semacam majelis rakyat) karena melihat Volksraad sebagai “boneka Belanda” yang hanya tertarik pada urusan kolonial di Timur. Hindia. terus mengabaikan hak-hak masyarakat adat. Saat itu, HOS Tjokroaminoto mengutarakan agar bangsa India (Indonesia) diberi hak untuk mengurus urusannya sendiri, namun ditolak oleh Belanda.

Potret kelompok pertemuan Sarekat Islam Kaliwungu. Hadir dalam kegiatan tersebut anggota Kaliwungu, Peterongan dan Mlaten serta anggota Asosiasi Pegawai Kereta Api dan Trem (VSTP).

Dalam kongres tersebut Tjokroaminoto menyampaikan bahwa SI bukanlah organisasi politik dan bertujuan untuk meningkatkan perdagangan masyarakat Indonesia, membantu anggotanya yang mengalami kesulitan ekonomi dan mengembangkan kehidupan keagamaan masyarakat Indonesia.

Sejarah Dan Kiprah Persis

Kongres kedua diadakan di Surakarta yang menegaskan bahwa SI hanya terbuka untuk masyarakat biasa. PNS tidak bisa menjadi anggota. Pada tanggal 17-24 Juni 1916 diadakan Kongres SI III di Bandung. Pada kongres ini, SI mulai mengeluarkan pernyataan politik. SI bertujuan untuk mempersatukan seluruh warga negara Indonesia menjadi bangsa yang berdaulat (merdeka). Pada tahun 1917, SI mengadakan kongresnya yang keempat di Jakarta. Pada kongres ini SI menegaskan ingin mencapai pemerintahan (kemerdekaan). Pada kongres tersebut, SI meminta pemerintah membentuk Dewan Perwakilan Rakyat (Volksraad). SI menominasikan H.O.S. Tjokroaminoto dan Abdul Muis merupakan wakil mereka di Volksraad.

SI yang mengalami perkembangan pesat kemudian mulai disusupi oleh sosialisme revolusioner. Pemahaman ini disebarkan oleh H.J.F.M. Sneevliet yang mendirikan organisasi ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging) pada tahun 1914. Pada awalnya ISDV berusaha menyebarkan pengaruhnya, namun karena paham yang dianutnya bukan di masyarakat Indonesia, melainkan didatangkan dari Eropa oleh Belanda, sehingga usahanya tidak berhasil. Maka ia menggunakan taktik infiltrasi yang disebut dengan “Inner Bloc”, ia mampu menyusup ke SI karena tujuannya sama yaitu melindungi rakyat jelata dan melawan kapitalisme, namun dengan cara yang berbeda.

Baca Juga  Buangan Limbah Industri Yang Memiliki Derajat Kesamaan Tinggi Akan Mempengaruhi

Dengan usaha yang baik, ia berhasil mempengaruhi tokoh-tokoh muda SI seperti Semaoen, Darsono, Tan Malaka dan Alimin. Hal ini menyebabkan SI terpecah menjadi “SI Putih” yang dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto dan “SI Abang” yang dipimpin oleh Semaoen. SI Merah didasarkan pada prinsip sosialisme-komunisme.

SI Putih sayap kanan (H. Agus Salim, Abdul Muis, Suryopranoto, Sekarmadji Marjan Kartosoewirjo) terletak di kota Yogyakarta. Sedangkan untuk SI Merah kiri (Semaoen, Alimin, Darsono) berada di kota Semarang. Sedangkan HOS Tjokroaminoto awalnya bertindak sebagai mediator antara kedua kubu.

Sejarah Kepala Banteng, Dari Sarekat Islam Hingga Pdi Perjuangan

Kesenjangan antara SI Merah dan SI Putih semakin melebar ketika keluar pernyataan Komintern (Partai Komunis Internasional) yang menentang cita-cita Pan-Islamisme. Pada Kongres SI bulan Maret 1921 di Yogyakarta, H. Fahruddin, wakil ketua Muhammadiyah, menyebarkan pamflet yang menyatakan bahwa Pan-Islamisme tidak akan tercapai jika kita terus bekerja sama dengan Komunis karena kedua belah pihak sedang berkonflik. Lebih lanjut, Agus Salim mengkritik SI Semarang yang mendukung PKI. Darsono menanggapi kritik tersebut dengan mengkritik pengelolaan keuangan Tjokroaminoto (Belanda: kebijaksanaan). SI Semarang juga menentang campur tangan agama dan politik di SI. Oleh karena itu, Tjokroaminoto lebih condong ke arah busur kanan SI (SI Putih).

Pembubaran SI terjadi setelah Semaoen dan Darsono dikeluarkan dari organisasi tersebut. Hal ini terkait dengan desakan Abdul Muis dan Agus Salim pada Kongres SI Keenam tanggal 6-10 Oktober 1921 tentang perlunya disiplin partai yang melarang keanggotaan rangkap. Anggota SI harus memilih antara SI atau organisasi lain demi menjaga SI tetap bersih dari unsur komunis. PKI khawatir akan hal ini sehingga Tan Malaka meminta pengecualian kepada PKI. Namun, upaya ini tidak berhasil karena disiplin partai disahkan berdasarkan suara terbanyak. Saat itu anggota PSI dari Muhammadiyah dan Persis juga didepak karena disiplin partai tidak mengizinkan.

Keputusan mengenai disiplin partai ditegaskan kembali pada Kongres SI bulan Februari 1923 di Madiun. Pada kongres tersebut, Tjokroaminoto fokus pada peningkatan pendidikan kader SI dalam penguatan organisasi dan mengubah nama CSI menjadi Partai Sarekat Islam (PSI). Pada Kongres PKI bulan Maret 1923, PKI memutuskan untuk mengerahkan SI Merah untuk bersaing dengan SI Putih. Pada tahun 1924 SI

Organisasi menurut islam, organisasi islam, jaket organisasi islam