Kemunduran Bangsa Indonesia Bisa Saja Terjadi Akibat Adanya Sifat – Indonesia telah menempuh perjalanan panjang menuju transformasi politik demokratis, setelah perlawanan kelompok pro-demokrasi mencapai puncaknya pada akhir tahun 1990-an, ditandai dengan jatuhnya pemimpin otoriter Soeharto pada Mei 1998. Presiden Soeharto diketahui memimpin Indonesia dengan komitmen yang besar. Kurangnya keterbukaan terhadap kebebasan sipil dan politik, sehingga perumusan gerakan politik pro-demokrasi pada akhir tahun 1990an dapat dibaca sebagai lompatan kualitatif menuju terbentuknya tatanan politik yang lebih demokratis.

Era Reformasi merupakan masa politik Indonesia yang ditandai dengan peralihan dari rezim otoriter menuju konsolidasi demokrasi. Namun transisi ini tidak terjadi secara linier. Elit predator – yaitu para politisi, birokrat, dan pengusaha yang membentuk elite tersebut

Kemunduran Bangsa Indonesia Bisa Saja Terjadi Akibat Adanya Sifat

Demi kepentingan individu dan kelompok – yang lahir dari kejayaan Orde Baru, memperoleh posisi strategis di era reformasi dengan beradaptasi pada sistem politik demokrasi dengan bergabung dengan partai politik, pemerintah, dan legislatif, serta perlahan tapi pasti membajak sistem demokrasi. institusi untuk kepentingan mereka. Robison & Hadiz: 2004).

Faktor Penyebab Kemunduran Islam Dalam Bidang Iptek

Dengan kata lain, era reformasi menjadi pendorong terjadinya reorganisasi kekuatan politik lama pada periode politik baru. Oleh karena itu, penggunaan kata “reformasi” untuk menandai periode politik baru ini sangat problematis, salah satunya karena era “reformasi” masih didominasi oleh kekuatan-kekuatan politik lama yang belum benar-benar tersingkir setelah negara ini memilih demokrasi. Kata “pasca Orde Baru” sepertinya lebih tepat untuk menyebut masa politik ketika kekuatan-kekuatan politik era Orde Baru masih eksis dalam demokrasi Indonesia saat ini.

Kekerasan politik milisi sipil yang ada sejak Orde Baru mendapatkan momentumnya di era demokrasi dengan bergabung ke dalam partai politik, atau mempertahankan bentuk organisasi milisi sipil yang berfungsi sebagai aparat penegak hukum.

Kekuatan politik seperti partai politik yang tidak dapat mengabaikan kepentingan militer, serta partisipasi militer dalam aliansi politik dan bisnis, baik lokal maupun nasional.

Artikel ini merupakan upaya untuk merefleksikan keadaan demokrasi Indonesia saat ini setelah negara tersebut memilih demokrasi setelah jatuhnya Soeharto. Upaya ini tentunya tidak terjadi dalam ruang hampa, karena kondisi demokrasi Indonesia saat ini sedang terpuruk. Kekhawatiran ini harus dipahami sebagai upaya untuk memikirkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kemunduran demokrasi, dan bagaimana kita kemudian memikirkan alternatif-alternatif yang mengandalkan kedaulatan rakyat untuk memajukan demokrasi kembali. Permasalahan yang diuraikan di sini hanyalah sedikit dari berbagai permasalahan demokrasi di Indonesia, yang masing-masing mempunyai kompleksitas tersendiri.

Baca Juga  Naon Anu Nyapit Tulang Bajing Teh

Uts Tema 1 Kelas 4 Worksheet

Masyarakat Indonesia telah mengamati fenomena kemunduran demokrasi Indonesia dari berbagai sudut pandang dan sudut pandang, namun tetap mempunyai kesimpulan yang sama, bahwa demokrasi Indonesia berada pada posisi terbelakang. Lihat R. Hadis misalnya yang menganalisis kemunduran demokrasi di Indonesia (

Yang muncul dalam wacana dan praktik politik pada pemilihan gubernur di Jakarta tahun 2016. Menurutnya, ada persaingan antar kelompok Islam konservatif

Hal ini merupakan ciri persaingan intra-oligarki yang menggarisbawahi sifat politik tidak liberal yang sudah berlangsung lama dalam demokrasi Indonesia (Hadiz: 2017).

). Menurutnya, pemerintahan Jokowi berupaya melindungi demokrasi dari serangan kelompok populis Islam, namun dengan cara yang juga tidak demokratis (

Ulangan Harian Tematik Kelas 4 Tema 1 Subtema 1

),[1] yaitu artikulasi kebijakan tidak liberal yang dilakukan kelompok Islam populis, yang direspon pemerintah dengan cara yang tidak liberal, misalnya dengan mengkriminalisasi mereka (Mietzner: 2018).

) dilihat dari faktor struktural, keagenan, dan kerakyatan. Secara struktural, mereka berpendapat bahwa masuknya elit anti-demokrasi – yang dapat ditelusuri kembali ke masa Orde Baru – ke dalam struktur pemerintahan demokratis telah menyebabkan kemunduran demokrasi di Indonesia. Dan sebagai sebuah lembaga, tindakan para elit ini perlahan tapi pasti menghancurkan norma dan institusi demokrasi. Selain itu, masih terdapat pesimisme masyarakat terhadap demokrasi. Dalam masyarakat, hal ini menimbulkan keinginan akan pemimpin yang kuat, kembalinya pemerintahan otoriter lama, dan konservatisme agama. Hal ini dikarenakan sebagian besar masyarakat Indonesia memahami demokrasi secara abstrak (Warburton & Aspinall: 2019).

). Regresi demokrasi Indonesia yang bersifat top-down ditandai dengan adanya konstelasi elit yang bersaing untuk mendapatkan kepentingan dan pengaruh politik, baik di pemerintahan maupun partai politik, yang pada akhirnya menyebabkan demokrasi Indonesia bergerak dari stagnasi ke kemunduran. Sementara itu, kemerosotan demokrasi Indonesia yang bersifat bottom-up dapat dilihat dari kurangnya perlindungan terhadap kelompok minoritas etnis, agama, dan seksual, baik oleh pemerintah yang seharusnya menjamin keamanan, maupun oleh kebijakan yang melindungi kelompok minoritas, namun juga oleh sesama warga negara. yang tetap memusuhi minoritas (Power & Warburton: 2020).

(EIU) melaporkan indeks demokrasi Indonesia turun dari 6,48 menjadi 6,3 pada tahun 2020. Angka tersebut merupakan yang terendah dalam 14 tahun terakhir dan menempatkan demokrasi Indonesia di bawah Malaysia dan Timor Timur dalam kategori tersebut.

Tentang Premis Amerika Serikat Di Ambang Kemunduran

Atau demokrasi yang salah. EIU mendapat skor 7,92 untuk proses pemilu dan pluralisme, 7,50 untuk kinerja pemerintah, 6,11 untuk partisipasi politik, budaya politik 5,38 dan kebebasan sipil 5,59.

Baca Juga  Bagaimana Posisi Anak Yang Menjadi Gerobak Dalam Permainan Gerobak Dorong

Wacana di atas menunjukkan kesimpulan yang sama: Demokrasi Indonesia sedang mengalami kemunduran dan terdapat beberapa permasalahan. Menurut penulis, ada tiga kategori dasar dalam menjelaskan kemunduran demokrasi di Indonesia yang dikembangkan berdasarkan wacana akademis di atas.

Yakni kategori struktural terkait relasi kekuasaan predator di kalangan elit yang beroperasi dalam sistem demokrasi dengan membajak institusi dan melanggar norma-norma demokrasi.

Yakni kategori budaya yang dikaitkan dengan nilai-nilai konservatif di masyarakat yang pada akhirnya membentuk gaya politik tidak liberal dalam demokrasi Indonesia. SAYA

Kondisi Lingkungan Hidup Di Indonesia Di Tengah Isu Pemanasan Global

Kebijakan anti demokrasi yang mengacu pada ada tidaknya berbagai kebijakan yang mengancam keberlangsungan demokrasi, seperti tidak adanya kebijakan yang tidak berpihak pada etnis, seksual minoritas, dan masyarakat adat, serta adanya kebijakan yang tidak mendukung demokrasi. agenda pemberantasan korupsi (melemahkan UU Komisi Pemberantasan Korupsi KPK No. 19/2019), kebijakan yang meningkatkan ketimpangan ekonomi dan merusak lingkungan serta pro pasar (UU Omnibus Law Pembukaan Lapangan Kerja No. 11/2020), serta ancaman terhadap artikulasi politik yang dianggap tidak berdasarkan Pancasila, serta ancaman terhadap keberlanjutan kebebasan sipil dan politik (UU No. 2/2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan).

Ketiga hal tersebut dapat kita lihat sebagai gambaran kemunduran demokrasi Indonesia, yang ketiganya tidak terpisah satu sama lain, melainkan saling terkait. Bagian selanjutnya akan mencoba menggali lebih dalam kemerosotan demokrasi dalam kaitannya dengan pemerintahan oligarki, represi langsung dan tidak langsung, serta disorientasi gerakan masyarakat sipil.

) dari pelaksana yang memiliki kekayaan materi. Sedangkan oligarki adalah aktor yang menguasai dan mengendalikan sumber daya material dalam konsentrasi besar yang dapat digunakan untuk mempertahankan atau meningkatkan kekayaan pribadi dan posisi sosial eksklusifnya (Winters: 2011). Menurutnya, ketimpangan materi yang ekstrem pada akhirnya berujung pada ketimpangan politik yang ekstrem. Hal ini karena oligarki yang memiliki sumber daya material dapat memanfaatkannya untuk tujuan politik, yaitu membangun klik politik dengan suatu kekuatan politik, yang tujuan sebenarnya adalah menjaga kesejahteraan. Menurut Winters, berlanjutnya kekuasaan oligarki di Indonesia disebabkan lemahnya penegakan hukum. Oligarki bisa mengelak dan bahkan memanipulasi hukum itu sendiri.

Perspektif Winters dalam memahami oligarki erat kaitannya dengan pendekatan Weberian yang menekankan pada aktor, sedangkan dari sudut pandang berbeda Richard Robison dan Vedi R. hadis di

Pancasila Dan Perannya Dalam Menghadapi Arus Globalisasi

(2004) memahami oligarki dalam pendekatan neo-Marxis, yaitu sebagai hubungan kekuasaan antara kelompok birokrat, pengusaha, dan politisi yang mempunyai kepentingan bersama dalam menguasai sumber daya material, sehingga membentuk hubungan kekuasaan.

Pada tahun 1978-1979 ia berhasil melahirkan borjuasi nasional Indonesia berkat kenaikan harga minyak. Inti argumen mereka adalah bahwa kaum oligarki yang berjaya di atas kejayaan Orde Baru gagal bangkit setelah Orde Baru. Kaum oligarki berhasil mengatur ulang dan menata kembali pemerintahan mereka dan menggunakan demokrasi untuk keuntungan mereka. Oleh karena itu, kelompok oligarki inilah yang paling diuntungkan dari demokrasi, di mana mereka dengan mudahnya membajak lembaga-lembaga demokrasi.

Baca Juga  Sebelum Memulai Proses Membatik Diatas Kain Mori Diawali Dengan Proses

Misalnya, survei yang dilakukan Marepus Corner, komunitas riset LIPI, mengungkapkan total ada 318 pelaku usaha yang tergabung dalam DNR. Artinya 1 sampai 6 dari 10 anggota DPR adalah pengusaha atau 55% dari total jumlah anggota DPR (Aidulsiah,

: 2020). Selain itu, berdasarkan penelusuran TEMPO dan Yayasan Auriga Nusantara, ditemukan 262 orang atau 45,5% dari 575 anggota DPR yang terkait dengan perusahaan tersebut periode 2019-2024. Nama mereka tercatat di 1.016 perseroan terbatas yang bergerak di berbagai sektor. Mereka menduduki posisi-posisi strategis di perusahaan seperti Direktur Jenderal, Wakil Direktur, Komisaris, Komisaris Utama, Ketua Komisaris dll. Mereka berasal dari fraksi seperti PDI-P, Golkar, Gerindra, NasDem, PKB, Demokrata, PKS, PAN dan PPP. Sebanyak 247 orang diantaranya tercatat sebagai pemegang saham di berbagai perusahaan (TEMPO: 2019).

Tugas 4 Pancasila

Dari data di atas terlihat jelas bahwa kaum oligarki membajak lembaga demokrasi seperti DPR yang merupakan bagian penting dalam proses demokratisasi. Berbagai peraturan DPR dan pemerintah yang terang-terangan berpihak pada kelompok dunia usaha, bisa dibaca sebagai fenomena pemerintahan oligarkis. Misalnya kebijakan UU Minerba, Revisi UU Pemberantasan Korupsi, dan UU Cipta Kerja. Pemerintahan oligarkis ini juga menciptakan bentuk politik tidak liberal di Indonesia, yang akan dibahas di bawah ini.

Politik iliberal dalam wacana akademik banyak dikaitkan dengan bangkitnya populisme politik, khususnya populisme Islam di Indonesia (Hadiz: 2017, Mietzner: 2018, Mudhoffir: 2020). Sementara itu, perspektif lain berupaya menganalisis kondisi struktural ekonomi politik dalam kaitannya dengan relasi kekuasaan di kalangan oligarki, politisi kaya, dan kelas kapitalis dalam hubungannya dengan negara, di mana artikulasi dan pengaruh politik mereka memperdalam politik iliberal.

) (Rahmat: 2020). Politik iliberal pada hakikatnya merupakan kebalikan dari prinsip-prinsip politik liberal seperti kesetaraan, kebebasan, kewarganegaraan dan lain sebagainya, dimana nilai-nilai tersebut mulai terkikis. Hal ini menggambarkan keadaan demokrasi yang semakin merosot dan menjauh dari prinsip-prinsipnya.

Dalam kondisi demokrasi Indonesia saat ini, kita bisa melihat semakin mendalamnya politik yang tidak liberal, seperti kekerasan di ruang publik.

Mengapa Indonesia Susah Sekali Maju? Apakah Karena Faktor Agama?

), termasuk aktor negara dan non-negara. Seperti dilansir KontraS, pada periode 2019-2020. ada 157 insiden serangan terhadap kebebasan sipil. Dari jumlah tersebut, penangkapan merupakan yang paling banyak terjadi, yaitu 63 kasus (CNN: 2020). Penangkapan umumnya dilakukan ketika pihak berwenang membubarkan pengunjuk rasa. Dalam Gerakan Reformasi Korupsi tahun 2019, dimana mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat sipil menentang revisi UU Pemberantasan Tipikor, UU KUHP dan pengesahan UU Minerbi, disebutkan bahwa

Akibat adanya kista, serangan jantung terjadi akibat adanya, akibat adanya karang gigi, akibat adanya pemanasan global, gempa dan tsunami aceh terjadi akibat adanya gerakan, akibat adanya jerawat, penyakit jantung koroner terjadi akibat adanya penyumbatan pada, serangan jantung terjadi akibat adanya penyumbatan pada, akibat adanya ketombe, diare terjadi akibat adanya infeksi, akibat adanya rotasi bumi, diare terjadi akibat adanya infeksi pada