Hampir 60 Penjualan Di Dunia Menggunakan Kemasan – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Penny K. Hal itu disampaikan Lukito dalam konferensi pers obat sirup pada Minggu (23/10/2022) di Gedung BPOM, Jakarta. Kepala BPOM Penny K. Menurut Lukito, sirup Termorex milik Konimex dipastikan terkontaminasi hanya pada batch tertentu, yakni nomor izin edar DBL7813003537A1, kemasan box, botol plastik -60 ml. (/Faisal Fanani)

, JAKARTA – Berdasarkan hasil penelusuran yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) baru-baru ini, ditemukan setidaknya tiga distributor bahan baku yang memasok propylene glycol ke industri farmasi mengandung ethylene glycol (EG). .

Hampir 60 Penjualan Di Dunia Menggunakan Kemasan

Salah satu distributor yang menjual bahan baku obat terkontaminasi tersebut adalah CV Samudra Chemical. Penny K. Lukito, Kepala BPOM RI, mengungkapkan pihaknya mengambil sampel bahan kimia dari perusahaan sebagai barang bukti.

Ternyata, 60 Persen Busi Yang Dijual Online Palsu

Sampel CV Samudra Kimia kemudian digunakan oleh BPOM untuk uji laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa EG dan DEG (Diethylene Glycol) berada jauh di atas batas kontaminan.

“Hasil pengujian mengungkapkan bahwa 12 sampel integritas propilen glikol ditemukan memiliki kandungan EG dan DEG yang jauh di atas persyaratan,” kata Penney dalam konferensi pers.

“Seharusnya 0,1 persen. Sembilan sampel ditemukan kadarnya sampai 52 persen, dan ada yang sampai 99 persen. Jadi kandungan EG-nya hampir 100 persen, bukan lagi propilen glikol,” ujarnya.

Menurut Penny, CV tersebut merupakan bagian dari pemalsuan yang dilakukan Samudra Chemical. Hal ini karena label yang tercetak pada bahan bakunya adalah Propylene Glycol. Padahal bahannya mengandung 99 persen EG.

Antusiasme Pekerja Ikuti Program Vaksinasi Sangat Tinggi

Penny mengatakan ada juga dua sampel dengan kadar DEG 1,34 persen. Seperti diketahui, kadar EG dan DEG tidak melebihi 0,1 persen diperbolehkan dalam sirup saat ini.

Setelah dikeluarkan peraturan untuk menghentikan penjualan dan konsumsi obat sirup, kasus gagal ginjal akut turun drastis. Total hanya ada tambahan 3 kasus, selebihnya merupakan kasus lama yang tercatat di catatan Kementerian Kesehatan RI per Rabu, 26 Oktober…

Baca Juga  Perhatikan Pernyataan Berikut Ini

Minggu (23/10/2022) Pedagang menunggu calon pembeli di sebuah toko di Pasar Pramuka, Jakarta Timur. Turunnya penjualan obat sirup bagi para pedagang di Pasar Pramuka karena adanya kabar bahwa anak-anak muda menderita gagal ginjal akut yang diduga akibat obat sirup tersebut. (merdeka.com/IqbalS.Nugroho)

Terkait hal itu, Penny mengimbau kepada seluruh industri farmasi yang memiliki hubungan bisnis dengan CV Samudra Chemicals agar dilakukan pemeriksaan bahan bakunya.

Pita Perekat Khusus Untuk Mobil, Perabot, Atau Pengemasan

“Tidak boleh propilen glikol. Syaratnya, kalau masuk industri farmasi, kontaminannya harus 0,1 EG dan DEG. Tapi ada kemungkinan seperti dulu, kandungannya terlalu besar,” ujar Penny.

Selain CV Samudra Chemical, distributor lain yang menjual raw material beserta polutan lainnya adalah CV Anugraha Perdana Gemilang. Dalam hal ini, CV Anugraha Perdana Gemilang merupakan pemasok utama bagi CV Budiarta.

Menurut informasi, Industri Farmasi CV Budiyarta merupakan pemasok propilen glikol ke PT Yarindo Pharmatama, yang sebelumnya masuk dalam daftar industri farmasi yang digugat pencemaran EG dan DEG.

“Jadi CV Samudra Chemical distributor kimia CV Anugraha Perdana Gemilang, dan CV Anugraha Perdana Gamilang supplier utama CV Budiyarta, CV Budiyarta supplier propylene glycol yang terbukti tidak layak untuk industri farmasi PT Yarindo. ” kata Penny.

Toko Kecil Dari Poris Yang Menjaga Peradaban Tembakau

Dalam kesempatan yang sama, Penney menegaskan banyak produk yang ditemukan BPOM mengandung pelarut propilen glikol. Pelarut memiliki kontaminasi EG dan DEG yang tinggi.

“Banyak dari produk tersebut menggunakan pelarut propilen glikol yang mengindikasikan adanya kontaminasi. Serangkaian pemeriksaan intensif dilakukan untuk melacak distributor yang memasok propilen glikol ke industri farmasi,” kata Penny.

Penny mencontohkan, jalur distribusi bahan kimia dalam obat itu jauh lebih panjang. Kami mulai dari importir, distributor, grosir bahan kimia, bahan baku khusus hingga barang yang dipasok ke industri farmasi penghasil obat.

Proses ini harus ditelusuri satu per satu dan bukan proses yang mudah untuk melacaknya. Tak perlu dikatakan, ada proses pengambilan sampel dan pengujian yang perlu dilakukan terlebih dahulu.

Mediaindo_20230208 Pages 1 22

Penny mengatakan, “Berdasarkan dokumen yang kami miliki, saluran distribusi diperiksa satu per satu. Kemudian kami melakukan sampling dan pengujian. Jadi kami benar-benar harus melihat satu per satu. Semuanya harus selalu kami lalui dengan lancar.” Tidak akan ditemukan.”

BPOM membantah telah menerbitkan daftar 15 obat sirup yang mengandung zat atau senyawa berbahaya. kredit: unsplash.com oleh Taufiq Barbhuiya

Penney juga mengungkapkan, BPOM juga menemukan industri farmasi lain yang tidak memenuhi persyaratan (TMS). Kesimpulan ini berasal dari keberadaan batch TMS yang diumumkan sebelumnya di industri farmasi.

“Kemudian kami telusuri pemasoknya. Kami mendapat informasi bahwa banyak pelarut juga digunakan di industri farmasi lain. Ada dua industri farmasi yang kami punya bukti substansial. PT Samco Pharma dan PT Siubros Pharma,” kata Penny. .

Baca Juga  Orang Yang Bertugas Menangkap Bola Adalah

Docx) Pengujian Kemasan Pangan

Berdasarkan hasil pengujian terhadap bahan baku dan produk jadi PT Siubros Pharma dan PT Samco Pharma, cemaran EG dan DEG pada bahan baku tersebut tidak memenuhi persyaratan produk jadi. Itu juga lebih dari batas aman,” ujarnya.

Oleh karena itu, BPOM memerintahkan penarikan dan pemusnahan produk yang saat ini diproduksi oleh kedua perusahaan tersebut. Proses evakuasi dan pemusnahan akan dilakukan di kantor BPOM di seluruh Indonesia.

“Pemusnahan semua persediaan sirup obat itu nanti akan ditindak lanjuti oleh Unit Pelaksana Teknis BPOM dengan berita acara,” kata Penny.

* Fakta atau Hoax? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang disiarkan, silahkan whatsapp cek fakta nomor 0811 9787 670 dengan mengetik kata kunci yang diinginkan. Pinang dianggap baik untuk diolah karena bahannya mudah didapat, tahan panas dan dingin. dapat dimusnahkan di alam, dan dapat diterima oleh masyarakat

Bagaimana Coats Merintis Untuk Masa Depan Yang Berkelanjutan?

Relawan #RoaJagaRoa mengemas makanan untuk dibagikan kepada warga yang menjalani isolasi mandiri di Palu. Interfoto/Basri Marzuki.

JAKARTA – Tanpa disadari, setiap kemasan makanan dan minuman bekas seperti styrofoam, plastik, dll telah menghasilkan limbah bekas yang menumpuk di berbagai belahan dunia.

Berdasarkan catatan Greenpeace, dalam kegiatan brand audit tahun 2016 hingga 2019, kebutuhan harian limbah perusahaan adalah (

Dalam temuannya, mayoritas perusahaan penyumbang sampah berada di industri makanan dan minuman, kategori industri yang terus berkembang setiap tahunnya.

Masa Depan Ecommerce Di Tahun 2021

Dalam Audit Merek 2019, sedotan menjadi limbah non-merek paling banyak, terhitung 16% dari total limbah bermerek dan non-merek. Selanjutnya, ditemukan bahwa sampah kantong plastik menyumbang 11% dari total sampah bermerek dan tidak bermerek.

Tidak hanya itu, sampah juga menimbulkan masalah ekonomi. Pada 2018, Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) memperkirakan kerugian ekonomi akibat pencemaran plastik di lautan mencapai US$14 miliar per tahun.

Temuan ini menjadi lebih kritis selama pandemi COVID-19. Selama pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), produsen kemasan plastik mengungkapkan terjadi peningkatan permintaan baik kemasan primer maupun sekunder.

Hal yang sama terungkap dalam penelitian yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tentang dampak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan konsep bekerja dari rumah.

Harian Analisa, 04 April 2023

Riset menunjukkan bahwa sejak April hingga Mei 2020, sampah plastik di wilayah Jabodataback meningkat seiring dengan peningkatan belanja online, dari 1-5 kali pada bulan pertama menjadi 1-10 kali dalam sebulan.

Baca Juga  Volume Prisma Trapesium

Di satu sisi, keterpaksaan untuk berdiam diri di rumah selama pandemi ini di satu sisi dapat menekan kenaikan kasus Covid-19, namun juga berdampak lain, yaitu meningkatnya sampah plastik dari belanja online.

Upaya pengurangan sampah plastik sebenarnya telah dilakukan oleh banyak pihak, baik oleh pemerintah maupun oleh lembaga atau organisasi masyarakat. Namun, ini tidak cukup. Dibutuhkan gerakan yang lebih masif untuk mengurangi sampah plastik.

Seperti yang dilakukan Rengkuh Banyu Mahandaru dan dua temannya, yang mencoba menjawab permasalahan yang ada. Banyaknya sampah plastik kemasan makanan dan minuman dan masih sedikitnya pilihan untuk menggantikannya, itulah alasan untuk berkreasi.

Jual Shinecon 6.0 Vr Box Virtual Reality Glasses Dengan Headphone

Modal awal dinaikkan. Sedikitnya Rp 100 juta terkumpul dari hasil patungan Rengkuh bersama teman-temannya. Pada 2018, ia resmi mendirikan Plepa.

Plepa lahir sebagai prakarsa pemberdayaan masyarakat di bidang konservasi, melalui pengolahan hasil hutan bukan kayu, seperti limbah pertanian pinang, sebagai motor ekonomi alternatif bagi masyarakat.

“Memang kita concern terhadap isu lingkungan. Peraturan yang dikeluarkan pemerintah terkait larangan produk sekali pakai yang tidak merusak lingkungan seperti plastik, styrofoam dan lainnya membutuhkan produk alternatif atau inovasi untuk menggantikannya. Belum diikuti,” dia berkata.

Memang benar, pemerintah sebenarnya telah berkomitmen untuk melarang penggunaan plastik sekali pakai di tingkat nasional sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 75 Tahun 2019. World Resources Institute (WRI) Indonesia bahkan mengusulkan tiga hal yang bisa dilakukan untuk mencapai target pengurangan jumlah sampah yang dibuang pada awal 2030-an.

Aplikasi Edit Foto Terbaik Untuk Foto Produk Anda

Pertama, mendorong transformasi produsen untuk menciptakan sistem pengumpulan dan daur ulang produk kemasan plastik, sekaligus mengurangi jenis plastik yang digunakan sekali. Kedua, peraturan konstruksi yang mendukung efisiensi penggunaan dan penggunaan kembali plastik. Ketiga, mendorong inovasi pengurangan plastik sekali pakai oleh banyak pihak.

Dari situ Rengkuh dan kawan-kawan mendapat inspirasi dan mencoba memanfaatkan barang-barang di Indonesia melalui petani. Dialog pun dilakukan. Padahal, hal tersebut memiliki potensi besar yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan alternatif bahan kemasan sekali pakai.

Awalnya petani dari komoditas yang berbeda berinteraksi dengan. Mulai dari kelapa sawit hingga produk karet di wilayah Sumatera Selatan dan Provinsi Jambi.

Referensi eksternal juga dicari. Salah satunya dari India. Rengkuh mengatakan, ada bagian di India yang sudah mulai menggunakan berbagai bahan alternatif sebagai kemasan makanan yang tidak merusak lingkungan.

Rendang Kering `asese`, Sebulan Bisa Laku Rp 50 Juta

“Kalau begitu dimasukkan dalam konteks Indonesia, barang-barang itu sebenarnya sudah ada, bahkan mungkin saat ini sudah tidak ada nilainya. Makanya kita coba optimalkan nilainya dengan mengubah bentuk bahan baku menjadi produk yang saat ini muncul di pasaran, yaitu produk Plepa,” ujarnya.

Meneliti bahan dan pengembangan produk selama dua tahun. Pada tahun pertama, penelitian difokuskan pada pengolahan bahan. pada tahun

Hewan langka yang hampir punah di dunia, penjualan hp terlaris di dunia 2020, tumbuhan hampir punah di dunia, kemasan 60 ml, hewan hampir punah di dunia, hewan hewan yang hampir punah di dunia, tempat penjualan plastik kemasan, penjualan album terbanyak di dunia, penjualan hp terlaris di dunia, penjualan komik terlaris di dunia, penjualan hp terlaris di dunia 2021, urutan penjualan hp terlaris di dunia