Penyakit Yang Disebabkan Oleh Pencemaran E-waste Terhadap Lingkungan Adalah – Benda ini mungkin bukan sesuatu yang sulit ditemukan karena letaknya yang sangat dekat dengan kita. Mencoba mendaur ulang barang elektronik yang tidak terpakai di rumah? Untuk menjaga?

E-waste sendiri jika diartikan adalah semua barang elektronik yang sudah tidak digunakan lagi oleh pemiliknya karena berbagai alasan. Entah karena rusak, sudah lama keluar perangkat baru yang semakin menyita perhatian.

Penyakit Yang Disebabkan Oleh Pencemaran E-waste Terhadap Lingkungan Adalah

Sayangnya, jumlah sampah elektronik di Indonesia tercatat mencapai 2 juta ton TPA pada tahun 2019. Dari jumlah tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan Pulau Jawa menyumbang 56%.

Sampah Elektronik: Permasalahan Limbah Yang Berdampak Besar Pada Lingkungan Dan Manusia

Diperkirakan jumlah tersebut akan mencapai 3.200 kiloton pada tahun 2040. Artinya setiap individu akan menyumbangkan 10 kilogram sampah elektronik setiap tahunnya. Hal ini disampaikan dalam penelitian Ph.D. Aulia Qisthi tentang daur ulang limbah elektronik, dikutip Mediaindonesia.com (15/06/2022).

Membuang sampah pada tempatnya, merupakan pesan yang sering kita lihat di tempat umum. Untuk memudahkan masyarakat dalam membuang sampah berdasarkan jenisnya. Begitulah cara tong sampah mendapat warna yang berbeda dan mengejutkan.

Dikutip dari Kontan.co.id (15/03/2021), terdapat 5 jenis tempat sampah yang dikelompokkan berdasarkan warnanya. Warna merah diperuntukkan bagi limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), seperti limbah elektronik.

Kulkas, mesin cuci, pengering, mesin pencuci piring, kompor listrik, microwave dan kipas angin listrik atau pendingin ruangan (air condition).

E Waste, Sampah Elektronik Yang Belum Menjadi Perhatian

Berbicara tentang dampak limbah elektronik terhadap kehidupan. Oleh karena itu, dampak negatifnya tidak hanya terhadap kesehatan manusia, tetapi juga terhadap kondisi lingkungan.

Di Indonesia, limbah elektronik tergolong limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Hal ini merujuk pada Peraturan Pemerintah No. 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun karena kandungannya.

Bagi manusia, logam berat yang terkandung dalam limbah elektronik dapat menyebabkan penyakit kanker, cacat lahir dan penyakit berbahaya lainnya yang mengancam kesehatannya. Ingat, mengandung bahan berbahaya dan beracun seperti timbal, merkuri, kadmium dan logam berat lainnya.

Baca Juga  Orang Yang Memiliki Sikap Jujur Ketika Berjanji Maka Ia Akan

Selain itu, kandungan zat berbahaya juga dapat membahayakan lingkungan jika tidak diolah dan dibuang dengan baik. Studi menunjukkan bahwa 70% merkuri dan kadmium di tempat pembuangan sampah di Amerika Serikat berasal dari limbah elektronik (Kanga, 2009).

Wacana Hak Angket Dprd Akibat Pembatalan Itf, Heru

Lebih khusus lagi, logam berat dari limbah elektronik yang tidak diolah dengan baik dapat menyebabkan kerusakan tanah. Selain itu, limbah ini akan mencemari air dan udara dengan zat-zat berbahaya yang dikandungnya. Padahal, jika sampah semacam ini dibakar, asapnya juga bisa merusak atmosfer bumi.

Ini bukanlah masalah yang mudah. Namun diperlukan sinergitas antar pemangku kepentingan seperti produsen barang elektronik, konsumen, tak lupa regulasi dari pemerintah sendiri.

Di Indonesia, peraturan terkait pengelolaan limbah elektronik, termasuk limbah B3, tertuang dalam berbagai peraturan perundang-undangan pemerintah. Kami berharap setiap peraturan dapat menjadi acuan masyarakat dalam pengelolaan limbah elektronik yang bertanggung jawab.

Sedangkan dari pihak perusahaan yang memproduksi barang-barang elektronik. Oleh karena itu, produsen juga harus mengambil tanggung jawab terhadap pengelolaan limbah elektronik dengan menghilangkan senyawa berbahaya dalam produk manufaktur. Selain itu, menciptakan barang elektronik yang tahan lama dan mudah didaur ulang juga menjadi tugas produsen untuk mencapai hal tersebut.

Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun

Dari sisi konsumen juga diharapkan untuk sadar dalam membeli barang elektronik. Era digital semakin memudahkan setiap orang dalam mengakses informasi, khususnya informasi mengenai barang elektronik di media sosial.

Seringkali karena kemudahan tersebut, kebanyakan orang bertindak impulsif dalam membeli barang hanya karena tren. Akibatnya, saat perangkat baru dibeli, perangkat lama akan dibuang.

Perilaku konsumen impulsif ini harus dihentikan secara perlahan. Pasalnya jurnalis senior Peter Dockrill dalam penelitiannya yang dikutip Nationalgeographir.grid.id (15/12/2022) pernah menyebutkan bahwa sebelum kita mulai menyalahkan semua negara atas keadaan planet ini, mungkin kita harus melihat adat istiadat dan persyaratan kita.

Upaya daur ulang sampah bukanlah hal yang baru, kegiatan pengolahan sampah menjadi produk yang dapat digunakan sudah lama diterapkan pada sampah organik dan anorganik. Bagaimana dengan limbah elektronik yang termasuk dalam limbah bahan berbahaya dan beracun (B3)?

Limbah Merkuri Ancam Kelestarian Lingkungan

Pada dasarnya, limbah elektronik dapat didaur ulang untuk menambah peningkatan perekonomian. Pasalnya, limbah tersebut mengandung sejumlah besar tembaga dan beberapa logam mulia. Namun, proses daur ulang bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan tanpa kepedulian.

Daur ulang hanya dapat dilakukan oleh perusahaan yang mempunyai izin pengelolaan limbah elektronik sesuai standar dan prosedur yang telah ditetapkan, mulai dari tahap pengumpulan, pengangkutan, klasifikasi hingga proses daur ulang dan pembuangan.

Hal ini diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Baca Juga  Rekap Adalah

Apalagi jika proses daur ulang berlangsung tanpa memperhatikan kondisi lingkungan. Dengan demikian, prinsip pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan ramah lingkungan akhirnya terabaikan.

Dampak Pencemaran Tanah Yang Wajib Tahu!

Oleh karena itu, sangat penting untuk memperhatikan proses daur ulang limbah elektronik. Selain itu, limbah tersebut mengandung bahan kimia berbahaya yang tidak baik bagi manusia dan lingkungan.

Adalah situs online berlisensi dan terpercaya untuk donasi, penggalangan dana dan kolaborasi untuk konservasi hutan Indonesia. Salurkan niat baik untuk membantu sesama dan alam dengan mendonasikan pohon untuk kelestarian masa depan kita. Ya, kita semua!!!

Semua barang elektronik yang pemiliknya tidak lagi gunakan karena berbagai alasan. Entah karena rusak, sudah lama keluar perangkat baru yang semakin menyita perhatian.

Hal ini dapat dilakukan oleh perusahaan yang mempunyai izin untuk mengelola limbah elektronik sesuai standar dan prosedur yang telah ditetapkan, mulai dari tahap pengumpulan, pengangkutan, klasifikasi hingga proses daur ulang dan pembuangan.

Sehat Badan, Sehat Alam: Kisah Dokter Di Cianjur Yang Rela Dibayar Dengan Sampah Botol Plastik

Rahmadani, A.A. (2019). Kajian pengelolaan sampah elektronik rumah tangga (E-waste) di selatan kota Yogyakarta. tesis. Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia. Diakses 16 Februari 2023, dari https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/16022/13513185.pdf?sequence=19&isAllowed=ylain, namun ada juga barang elektronik yang dikenakan biaya dan disimpan di rumah , seperti televisi, kulkas, mesin cuci, dll.

Jika Anda membuangnya, perhatikan cara membuangnya yang benar. Sebab, barang elektronik rusak yang menjadi sampah atau limbah elektronik (E-Waste) membahayakan masyarakat.

Beberapa komponen peralatan listrik dan elektronik bekas serta limbahnya memerlukan pengelolaan yang baik karena mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3).

Setiap limbah elektronik selalu mengandung bahan beracun seperti komponen logam berat yaitu merkuri, timbal, kromium, kadmium, arsen dan lain-lain.

Who: Lonjakan Limbah Elektronik Pengaruhi Kesehatan Jutaan Anak Dan Ibu Hamil

Selain itu, terdapat senyawa PVC dan polybrominated diphenyl ether (PBDE) berbahaya yang biasa digunakan untuk menurunkan tingkat panas pada bagian produk elektronik, seperti komponen penghubung, kabel, dan penutup plastik televisi atau komputer.

RJ E-Waste di 13 kota di Indonesia antara lain Jakarta, Depok, Bogor, Surabaya, Bekasi, Yogyakarta, Salatiga, Tuban, Palembang dan Makassar.

Ini adalah ide anak saya dari pekerjaan rumahnya di sekolah dasar dan kemudian diterapkan ke dalam buku. Saat itu komunitas itu terbentuk dan sekarang menjadi yayasan. Tujuan utamanya jelas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan limbah elektronik, kata Farah di Jakarta, Jumat (13 September 2019).

Lihat postingan Instagram Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dari @sereniahillsbyintiland, terima kasih telah menerima kami! #ewasterjdropbox akan tetap berada di kantor pengelola properti yang belum turun, tunggu! #ewasterj #ewasterjteam #sharingsession #dropbox Sebuah postingan dibagikan oleh Komunitas Ewaste-RJ (@ewasterj) pada 17 Agustus 2019 pukul 4:49 pagi PDT Berbagai bahaya komponen limbah elektronik

Baca Juga  Untuk Melatih Daya Tahan Otot Diharapkan Latihan Kecuali

Inovasi Sosial Melalui Teknologi Digital: Alternatif Solusi Permasalahan Sampah Nasional

Buku karya Rafa Jafar, aktivis muda lingkungan hidup yang juga penggagas drop zone RJ E-Waste bertajuk E-Waste 2015 menjelaskan tentang bahaya komponen E-waste.

Pertama, logam merkuri dapat meracuni manusia dan merusak sistem saraf otak, serta dapat menyebabkan cacat lahir.

Lalu ada timbal yang dapat mengganggu sirkulasi anak, ginjal, perkembangan otak, dan merusak sistem saraf. Bahkan di lingkungan, timbal juga dapat meracuni tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme.

Kadmium juga merupakan salah satu hal yang terdapat pada limbah elektronik atau e-waste. Logam ini dapat merusak ginjal karena masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan dan makanan.

Perajin Arang Batok Keluhkan Besaran Kompensasi Penutupan Sementara

Selain itu, terdapat PBDE yang kemungkinan besar akan mengganggu sistem endokrin dan menurunkan kadar hormon tiroksin pada mamalia dan manusia, sehingga perkembangan fisiknya terganggu.

Lalu ada senyawa berbahaya lainnya yang disebut polybrominated biphenyls (PBB). Jika dicampur dengan pakan sapi dan sapi tersebut dikonsumsi manusia, orang yang mengonsumsinya memiliki risiko 23 kali lebih tinggi terkena kanker saluran pencernaan.

Prihatin dengan dampak buruk tersebut di atas, banyak elemen masyarakat, termasuk masyarakat dan Dewan Lingkungan Hidup, serta beberapa perusahaan pengelola sampah di Indonesia, yang menggalakkan kesadaran akan limbah elektronik atau e-waste.

Pengelolaan limbah elektronik tidak bisa dilakukan sembarangan dan membutuhkan teknologi, sehingga telah dibentuk titik-titik di berbagai daerah untuk menyediakannya.

Limbah Elektronik Di Indonesia, Dari Bahaya Sampai Solusinya Halaman All

Dropzone ini merupakan tempat menyimpan sampah-sampah elektronik yang berukuran kecil dan dapat dimasukkan ke dalam bukaan kotaknya, seperti handphone, kabel,

Sedangkan untuk e-waste berukuran besar seperti TV, kulkas, komputer, printer, mesin cuci dan lain-lain, dapat menghubungi penyedia layanan pengumpulan e-waste.

Jika disimpan begitu saja atau dibuang sembarangan, atau bahkan dibakar, maka dampak buruk dari berbagai bahan beracun tersebut di atas akan semakin meluas dan menjadi salah satu faktor timbulnya penyakit.

Dapatkan berita pilihan dan berita terkini dari Kompas.com setiap hari. Gabung di grup Telegram “Update Berita Kompas.com”, klik link https://t.me/kompascomupdate lalu gabung. Pertama, Anda perlu menginstal aplikasi Telegram di ponsel Anda.

E Waste Dapat Membantu Kurangkan Jejak Karbon

Berita terkait: Yang mengkhawatirkan, limbah elektronik dunia mencapai 9 piramida Giza. Bakteri inilah yang mengubah limbah elektronik menjadi tambang emas murni (Covid-19) yang mewabah sejak akhir tahun 2019, telah menjadi pandemi global dan menimbulkan berbagai permasalahan, salah satunya adalah permasalahan kesehatan lingkungan. Permasalahan ini terutama terkait dengan pengelolaan limbah medis. Jumlah limbah medis di seluruh dunia, termasuk Indonesia, meningkat signifikan selama pandemi Covid-19. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat peningkatan jumlah limbah medis yang dihasilkan di Indonesia mencapai 30% sejak merebaknya pandemi dengan total 1.100 ton (data per 8 Juni 2020). Untuk mengatasi permasalahan limbah medis yang dihasilkan pada masa pandemi Covid-19, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kemudian menerbitkan surat edaran nomor 2/MENLHK/PSLB3/PLB.3/3/2020.

Wasir adalah penyakit yang disebabkan oleh, dampak pencemaran terhadap lingkungan, sifilis adalah penyakit yang disebabkan oleh, penyakit yang disebabkan oleh lingkungan, gonore adalah penyakit yang disebabkan oleh, tbc adalah penyakit yang disebabkan oleh, dampak pencemaran udara terhadap lingkungan, penyakit yang disebabkan oleh pencemaran air, pencemaran udara disebabkan oleh, impotensi adalah penyakit yang disebabkan oleh, penyakit yang disebabkan oleh pencemaran udara, sesak nafas adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya pencemaran