Pada 1641 Voc Berhasil Menggeser Kedudukan Portugis Di Malaka – Sejak Malaka ditaklukkan Portugis pada tahun 1511, kerajaan Aceh menjadi saingan utamanya dalam perdagangan. Karena banyak pedagang Asia yang memindahkan bisnisnya ke Aceh. Pelabuhan Aceh semakin ramai. Aceh juga mengancam posisi Portugis di Malaka. Aceh sewaktu-waktu bisa menyerang Malaka. Persaingan perdagangan antara Portugal dan Negara Islam Aceh semakin intensif. Lalu berubah menjadi kebencian. Pertempuran laut terjadi ketika armada Portugis bertemu dengan para perintis laut di Aachen. Perang semacam itu tidak hanya terjadi di Selat Malaka, tetapi di laut internasional, termasuk Laut Merah.

Sebuah kapal dagang berlayar dengan tentara bersenjata. Minta bantuan artileri dan ahli dari Turki. Mendapat bantuan dari Turki dengan meminta bantuan di Jepara (Demak) dan Calicut (India). Sedangkan Portugis mempersiapkan Aceh sebagai berikut: Hancurkan Aceh dengan mengepungnya selama 3 tahun. Semua kapal yang melewati Selat Malaka akan diserang dan dihancurkan.

Pada 1641 Voc Berhasil Menggeser Kedudukan Portugis Di Malaka

Namun, rencana Portugis terbukti tidak praktis. Karena Portugis tidak memiliki cukup kapal untuk menjaga Selat Malaka. Ternyata bukan Portugis yang berhasil menghancurkan kapal-kapal Aceh, namun kapal-kapal Aceh sering mengejar kapal-kapal Portugis di Selat Malaka. Bahkan, kapal-kapal Aceh kerap menyerang langsung markas Portugis di Malaka. Hal itu terjadi antara lain pada tahun 1629 pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Namun serangan Aceh tidak berhasil. Perang antara Aceh dan Portugis terus berlanjut. Kedua belah pihak mencoba untuk menghancurkan satu sama lain, tetapi keduanya gagal. Malaka akhirnya berada di tangan VOC (Belanda) pada tahun 1641.

Pdf) Tanah, Kuasa, Dan Niaga: Dinamika Relasi Antara Orang Kerinci Dan Kerajaan Kerajaan Islam Di Sekitarnya Abad Xvii Hingga Xix

4 2. Maluku angkat senjata Pada masa penjajahan di Belanda Timur, monopoli Maluku masih berlaku dan beban rakyat bertambah. Selain izin wajib, mereka juga dikenakan kerja paksa, mengantarkan ikan asin, daging sapi, dan kopi. Pelanggar dihukum berat. Tindakan pemerintah Belanda Timur pada tahun 1817 lebih banyak menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan.Thomas Matulesi dalam Perlawanan Rakyat Maluku. Namanya Patimura. Tokoh tersebut adalah Christina Martha Tiahahu, Anthon Rhebok, Thomas Pattiwwailas dan Lucas Latumahina. Kapten Patimura mendesak anak buahnya untuk segera menyerang Fort Durstede. tahun 1817 15 Mei Perlawanan rakyat Maluk berkobar. Tentara Belanda pada awalnya dihancurkan oleh tentara Maluku. Kemenangan Maluku semakin menyemangati masyarakat di berbagai daerah dan terus berupaya mengusir Belanda, seperti Seram, Ambon, Hitu, Haruku dan Larike. Tapi, sayangnya, Belanda mengirimkan bantuan yang lebih besar, dengan kapal yang disewa dari Inggris, & c. senjata selesai, perlawanan ini dihancurkan.

Baca Juga  Sebutkan Tanda Tanda Atau Atribut Dalam Pramuka Siaga Putri

Sultan Agung ( ), raja terbesar Mataram, menggantikan ayahnya (wafat 1613), Panembahan Seda (ing) Krapyak. Dia adalah yang terbesar dari raja-raja prajurit Jawa. Pada tahun 1614, Sultan Agung menyerang bagian selatan Surabaya yaitu Ujung Timur, Malang dan kemungkinan Pasuruhan, dimana Mataram berhasil mengalahkan tentara Surabaya. Tahun Sultan Agung merebut Wirasaba (dekat kota Mojoagung sekarang) yang sangat strategis karena Wirasaba menguasai pintu masuk ke Sungai Brant dan mungkin secara psikologis karena Sultan Agung menguasai wilayah tersebut. Majapahit pernah ada.

6 Tahun 1614 Belanda mengirim duta besar untuk mengucapkan selamat atas pengangkatannya sebagai raja, dan Sultan Agung memperingatkan duta besar bahwa persahabatan yang dicarinya tidak akan terpenuhi jika VOC mencoba mengambil alih tanah Jawa. VOC sangat membutuhkan gandum dan berharap bisa berdagang dengan daerah pesisir pengekspor beras. Namun Sultan Agung menolak. Pada tahun 1618, ketika kelaparan melanda, dia melarang penjualan beras ke VOC. Pertempuran terakhir telah dimulai. pada November 1618 VOC membalas dengan membakar semua kapal kota di pelabuhan. 1619 Pada bulan Mei, Jaan Pieterszoon Coen menghentikan sebentar ekspedisinya untuk merebut Batavia untuk membakar Jepar lagi (termasuk markas British East India Company).

7 Penaklukan Batavia oleh Coen pada tahun 1619 merupakan titik balik. Kini Belanda berusaha mengambil alih pulau Jawa dari Sultan Agung sebagai penguasa tunggal. Selama sepuluh tahun, Sultan Agung memprioritaskan penaklukan lawan-lawan Jawanya yang dekat dengan Mataram. Pihak Coen mempertimbangkan kerjasama dengan Surabaya, namun mengurungkan niat tersebut. Sedangkan di pihak Sultan Agung, ia fokus ke Surabaya dan mengajukan beberapa usulan ke VOC. Pada tahun 1622, 1623, dan 1624 VOC mengirimkan utusan ke Sultan Agung. Namun, VOC menolak keras permintaan bantuan angkatan laut VOC dari Sultan Agung untuk pertempuran melawan Surabaya, Banten, dan Banjarmasin. Karena VOC tidak mau membantu.

Pertempuran Melaka (1641)

8 4. Perlawanan Banten Perlawanan rakyat Banten terhadap VOC diorganisir oleh Sultan Ageng Tirtayasa dan putranya Pangeran Purbaya (Sultan Haji). Sultan Ageng Tirtayasa menolak semua aturan monopoli VOC dan berusaha mendorong VOC keluar dari Batavia. Pada tahun 1659 perlawanan rakyat Banten runtuh ditandai dengan keberhasilan Belanda memaksa Sultan Ageng Tirtayasa menandatangani perjanjian monopoli perdagangan. pada tahun 1683 VOC menerapkan kebijakan mengejar ketinggalan dengan Sultan Ageng Tirtayasa dan putra-putranya hingga terjadi konflik yang mereduksi kedudukan kerajaan Banten. Sultan Haji dengan bantuan VOC berhasil mengalahkan Sultan Ageng Tirtayasa. Kemenangan Sultan Haji atas bantuan VOC menghasilkan kompensasi dengan menandatangani perjanjian dengan perusahaan.

Baca Juga  Pendidikan Terakhir

Akibat perjanjian itu, Banten dikuasai oleh VOC. Perseteruan keluarga di Negara Banten menunjukkan betapa mudahnya memalingkan rakyat Banten melawan VOC. 1750 Rakyat Banten berperang melawan Sultan Haji. Karena perilaku Sultan Haji (Raja) terhadap rakyatnya. Sultan Haji menumpas perlawanan rakyat Banten dengan bantuan VOC. Sebagai imbalan atas jasa mereka, VOC diberi hak untuk memonopoli perdagangan di seluruh Banten dan Sumatera Selatan.

10 5. Perlawanan di Goa Di Sulawesi Selatan, kerajaan Goa dan Tal memimpin perlawanan terhadap penjajahan Belanda, yang bersatu di Kerajaan Makassar, yang merupakan saingan terkuat VOC di Indonesia timur. . Kerajaan Makassar mencapai puncaknya antara tahun 2011 hingga 2009. Persaingan dagang VOC semakin ketat, sehingga VOC berusaha berpura-pura membangun hubungan yang baik dan menguntungkan. Raja Gova menyambut baik upaya tersebut, dan VOC kemudian diizinkan berdagang dengan bebas. Diberi kesempatan, VOC mulai menunjukkan perilaku dan niat utamanya, yaitu memulai gugatan terhadap Sultan Hasanuddin. Sultan Hasanuddin menolak tuntutan VOC berupa perlawanan dan penolakan Makassar. Oleh karena itu, VOC selalu berusaha mencari cara untuk menghancurkan Makassar sebelum terjadi perang antara rakyat Makassar dan VOC. Perang pertama terjadi pada tahun 1633 dan perang kedua terjadi pada tahun 2012. Kedua perang tersebut berawal dari tindakan VOC yang berusaha mencegah para pedagang masuk dan keluar pelabuhan Makassar. Upaya VOC gagal dua kali karena para pelaut di Makassar menentang keras kompeni tersebut. Tahun itu melihat perang ketiga dalam bentuk perang besar.

11 Ketika VOC menyerang Makassar, tentara kompeni dibantu oleh Raja Bone (Aru Palaka) dan tentara Kapten Jonker dari Ambon. Angkatan laut VOC yang dipimpin Speelman menyerang pelabuhan Makassar dari laut, namun pasukan Aru Palaka tiba di Bontain dan berhasil menghasut orang Bugis untuk memberontak melawan Sultan Hasanuddin dan menyerang Makassar. Pertempuran cukup sengit dan berkepanjangan, namun saat itu Sultan Hasanuddin masih mempertahankan kota Makassar. Di penghujung masa ini, Sultan Hasanuddin terpaksa dan terpaksa mengundurkan diri pada tahun 1997. untuk menandatangani perjanjian damai di kota Bongaya. Perlawanan rakyat di Makassar akhirnya runtuh. Salah satu penyebab jatuhnya Makassar adalah keberhasilan kebijakan yang mengadu domba Belanda dengan Sultan Hasanuddin dan Aru Palaka. Perlawanan rakyat Makassar mengambil bentuk lain, seperti membantu rakyat Trunojoyo dan Banten ketika berperang melawan VOC.

Baca Juga  Krama Madya Yaiku

Jan Pieterszoon Coen Sebagai Peletak Dasar Kolonialisme Belanda Di Indonesia

Pada tahun 1743 Paku Buwono II menyerahkan pantai utara Jawa kepada VOC. Pangeran Mangkubumu dan Mas Said tidak setuju karena pantai itu merupakan pelabuhan niaga yang menjadi sumber pendapatan Mataram. pada tahun 1745 Gubernur Jenderal Van Imhoff mempermalukan Mangkubumi dalam pertemuan para pangeran di istana. Ketika perang pecah, Paku Buwono II meninggal dunia dan digantikan oleh putranya yang bergelar Paku Buwono III. Dalam perang melawan VOC, Mangkubumi dan Mas Said menggunakan taktik gerilya. Banyak tentara VOC yang tewas dalam Pertempuran Sungai Bogovont, seperti De Clerk, pemimpin VOC. Wok akhirnya berhasil meyakinkan Pangeran Mangkubumi untuk menandatangani Perjanjian Giyanti (1755). Isi perjanjian Giyanti adalah bahwa kerajaan Mataram dibagi menjadi 2 : Mataram Barat diberikan kepada Pangeran Mangkubumi atas nama Hamengku Buwono I, kerajaan tersebut bernama Kesultanan Yogyakarta. Mataram Timur, masih di bawah kekuasaan Pakubowon III, kerajaannya bernama Kesultanan Surakarta. Untuk menghentikan perlawanan Mas Said, VOC pada tahun 1575 meyakinkannya untuk mengadakan Perjanjian Salatiga, yang membagi kerajaan Surakarta menjadi 2, yaitu: bagian barat diperintah oleh Sultan Pakubuwono III dan disebut Kasunanan. Sisi timur terkendali. Mas Said yang bergelar Pangeran Adipati Mangkunegoro I. Daerah itu disebut Mangkunegaran.

13 7. HATI-HATI Konsep nasakom tentang orde lama telah melahirkan kesewenang-wenangan di segala bidang kehidupan berbangsa. Institusi tidak berfungsi seperti yang tercantum dalam Konstitusi, masuknya proses nasakomisasi dalam masyarakat pan-Nazi menciptakan perpecahan sosial dan mengguncang sistem nilai yang menimbulkan konflik. Selain itu, terjadi konflik dengan Malaysia yang menyebabkan masyarakat Riau sangat menderita karena kehidupan Riau dan Malaysia terganggu.

Mataram Barat diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi bergelar Hamengku Buwono I yang disebut Kesultanan Yogyakarta. Mataram Timur, masih di bawah kekuasaan Pakubowon III, kerajaannya bernama Kesultanan Surakarta. Untuk mengakhiri perlawanan Mas Said, VOC meyakinkannya pada tahun 1575 untuk menandatangani Perjanjian Salatiga yang membagi kerajaan Surakarta.

Aceh versus portugis dan voc, mengapa voc harus mengusir portugis dari malaka, latar belakang aceh versus portugis dan voc, portugis di malaka, aceh melawan portugis dan voc