Yang Bukan Merupakan Pemanfaatan Sungai Yaitu – Masyarakat Kalimantan merupakan salah satu dari sekian banyak masyarakat di Indonesia yang begitu bergantung pada sungai untuk kehidupan sehari-hari. Sebut saja nama beberapa sungai besar di sana seperti Barito hingga Sungai Kapuas yang juga menjadi pusat peradaban di Kalimantan.

Pada praktiknya, sungai-sungai di Kalimantan juga mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat. Salah satu yang paling terlihat terlihat di ibu kota provinsi Kalimantan Selatan, Banjarmasin. Disebut sebagai kota seribu sungai, kota ini juga dikelilingi oleh sungai besar dan kecil.

Yang Bukan Merupakan Pemanfaatan Sungai Yaitu

Selain sebagai sarana melakukan aktivitas sehari-hari, sungai-sungai di Banjarmasin mempunyai fungsi lain. Fungsi ini terutama dilaksanakan dan digunakan oleh masyarakat.

Pln Indonesia Power Ajak Warga Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai Serayu Demi Plta Jenderal Sudirman

Salah satu kegunaan sungai bagi masyarakat Banjarmasin Kalimantan Selatan adalah sungai ini digunakan sebagai moda transportasi. Di Banjarmasin sendiri, sungai yang dulunya hanya digunakan untuk mandi dan mencuci, kini berubah menjadi salah satu sarana transportasi yang efisien dan bebas kemacetan.

Selain sebagai alat transportasi, sungai juga dimanfaatkan untuk berbagai hal. Salah satu hal yang penting dalam pemanfaatan sungai di Banjarmasin adalah pengairan dan pengairan yang terutama dilakukan pada tempat-tempat khusus pertanian yang dijadikan salah satu manfaat utama sungai ini.

Irigasi merupakan hal yang sangat penting karena banyak pelayanan masyarakat atau kegiatan pertanian masyarakat yang masih membutuhkan air. Air ini diperoleh dari sebuah sungai di daerah Banjarmasin.

Kedua hal inilah yang menjadi dua cara utama pemanfaatan sungai oleh masyarakat Banjarmasin, Kalimantan. Selain itu, sungai yang sangat lebar dan panjang ini juga dijadikan salah satu fasilitas wisata pilihan yang juga akan menarik perhatian wisatawan. Air merupakan sumber kehidupan, tidak hanya bagi manusia, tetapi juga bagi seluruh makhluk hidup. Di kemudian hari dan berkat kemajuan teknologi, masyarakat memanfaatkan air sebagai salah satu sarana penunjang aktivitas transportasi. Kegiatan transportasi tersebut menggunakan air dan air cair dalam jumlah besar, misalnya laut dan sungai. Dengan pemanfaatan air sebagai alat transportasi, masyarakat dahulu memandang air sebagai sebuah potensi yang besar dan jika dimanfaatkan dengan baik akan membawa manfaat. Permukiman manusia purba banyak yang mulai berkembang di daerah dekat sumber air. Hal ini dikarenakan air memegang peranan penting dalam kehidupan, baik untuk pemenuhan kebutuhan primer misalnya untuk minum dan memasak, maupun untuk pemenuhan kebutuhan sekunder misalnya untuk mandi.

Baca Juga  Sikap Awal Jalan Biasa Dilanjutkan Lari Cepat Adalah

Seraut Suaka Di Hutan Gambut

Salah satu kesultanan Islam di nusantara yang memanfaatkan sungai sebagai jalur transportasi wilayahnya adalah Kesultanan Banten. Pemanfaatan alur sungai ini terjadi sejak Banten masih berada di bawah Kerajaan Sunda dan berlanjut hingga Banten diubah menjadi kesultanan. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Ten Dam (dalam Untoro, 2007: 26), bahwa pada masa Kerajaan Sunda, sungai-sungai yang mengalir dari pedalaman ke utara Pulau Jawa digunakan sebagai penghubung antara Pajajaran dan Banten Girang. Pada masa yang lebih maju, kanal juga dibangun untuk memperlancar arus lalu lintas air. Perkembangan ini mencapai puncaknya pada abad ke-18. abad, ketika kota dan sekitarnya memiliki banyak saluran sungai yang dapat dinavigasi dengan perahu (Michrob, 1993: 78). Contoh pembangunan kanal di Banten adalah pembangunan saluran air dari Sungai Untung Jawa hingga Pontang yang dilakukan pada tahun 1660. Pada tahun 1670 juga dibangun kanal dari Tanara hingga Pontang. Daerah tersebut berkembang dengan adanya kanal-kanal yang berfungsi sebagai jalur transportasi dan mengairi daerah sekitarnya sehingga tumbuh menjadi daerah produksi pangan bagi Banten (Untoro, 2007: 162).

Mengenai fungsi sungai dan kanal, perwakilan East India Company, Edmund Scott, pernah tinggal di Banten pada bulan Mei 1603 hingga Oktober 1605. Ia banyak bercerita tentang kehidupan masyarakat di Banten, salah satunya tentang transportasi air. Menurut kesaksiannya, banyak sungai yang mengalir di Banten, dan juga terdapat jalur yang baik bagi kapal untuk berlayar.

“Di kota paling barat terdapat Pecinan. Sebuah sungai kecil membelah kota ini, mengalir melalui Kota Cina menuju istana raja dan terus mengalir di tengah-tengah kota besar ini. Sungai ini mengalami pasang surut sehingga pada saat air tinggi baik perahu kecil maupun kapal kecil Tiongkok yang memuat muatan dapat berlayar ke tengah kota” (Scott, 2013: 8 – 10).

Fungsi Sungai Cibanten yang digunakan sebagai jalur lalu lintas masih berlanjut hingga puluhan tahun kemudian. Ini ditulis oleh Cortemunde, seorang Denmark yang tinggal di Banten. Dijelaskannya, sepanjang abad ke-17, kawasan Kelapa Du yang bisa dicapai dengan perahu merupakan kawasan yang dikenal sebagai penghasil gula dan arak. Daerah tersebut dihuni oleh orang Tionghoa yang berprofesi sebagai petani tebu. Ia juga menambahkan bahwa pada tahun 1678 Sungai Cibanten masih menjadi wadah yang penting (Rahardjo, 2015: 4).

Sungai Indonesia Banjir Mikroplastik Dampak Amburadul Tata Kelola Sampah

Pada periode berikutnya, masyarakat yang memanfaatkannya mulai meninggalkan peran Sungai Cibanten sebagai jalur air Banten. Proses irigasi dan sedimentasi terus berlanjut hingga sungai dan kanal di wilayah Banten berubah menjadi rawa bahkan daratan akibat pendangkalan. Sejak awal abad ke-18, para sultan mulai menggunakan kereta kuda yang didatangkan dari Batavia (Guillot, 2008: 88 – 90).

Baca Juga  Waragad Nyaeta

Situs Banten Girang terletak di Desa Telaya, Desa Sempu, Kota Serang. Letaknya sekitar 10 km sebelah selatan pelabuhan Banten saat ini, di pinggiran kota Serang. Di tempat ini terdapat situs kuno peninggalan kerajaan Sunda yang berdiri antara tahun 932 hingga 1030.

Menurut Sajarah Banten, sesampainya di Banten Girang, Sunan Gunung Jati bersama putranya Hasanuddin mengunjungi Gunung Pulosari yang merupakan tempat suci kerajaan saat itu. Di sana, Gunung Jati menjadi pemuka agama masyarakat setempat yang masuk Islam. Baru setelah itu Gunung Jati menaklukkan Banteng Girang secara militer. Kemudian ia menjadi raja atas restu Raja Demak. Dengan kata lain Gunung Jati tidak mendirikan kerajaan baru, melainkan mengambil alih tahta kerajaan yang sudah ada yaitu Banten Giranga.

Sehubungan dengan berdirinya Kerajaan Banten Girang F.D.K. Bocsh mengaitkannya dengan prasasti Kebon Kopi II yang ditemukan di Bogor. Bosch menafsirkan tanggal prasasti Kebon Kopi II berdasarkan (candrasangkala), yaitu tahun 932 M (854 M). Sedangkan informasi mengenai fungsi Banten Girang sebagai pemukiman atau perkotaan dapat dilihat pada Kronik Banten. Dalam babad disebutkan bahwa penaklukan seluruh wilayah Banten oleh tentara Islam digambarkan sebagai perebutan kota Banten Girang.

Pulau Bakut, Destinasi Wisata Di Tengah Sungai Barito

Informasi dalam babad Banten Syalam hasil penelitian bahwa situs Banten Girang merupakan tempat pemukiman setingkat kota pra industri, untuk keperluan pertahanan dikelilingi benteng tanah pada bagian dalam dan luar tanggul. Pemanfaatan gundukan tanah sebagai benteng telah dikenal sejak zaman prasejarah, akhir masa Hindu-Buddha, dan berlanjut di kota-kota kuno pada masa Islam.

Di situs Banten Girang terdapat sebuah gua yang didalamnya terdapat tiga ruangan, di dalam gua inilah Raja Pucuk biasanya bertapa. Pada pertengahan tahun 1990-an, ditemukan patung dwarapala di Sungai Cibanten tak jauh dari situs Banten Girang. Hal ini menunjukkan bahwa Banten Girang masih mempunyai banyak pertanyaan menarik untuk diteliti lebih lanjut. Sebagaimana disebutkan dalam catatan sejarah, Sungai Cibanten pernah berfungsi sebagai jalur transformatif yang menghubungkan kawasan pesisir dengan pedalaman.

Sejarah berdirinya masjid kuno Kaujon tidak diketahui secara pasti. Menurut keterangan Mukmin Satari (Ketua DKM Masjid Kuno Kaujon), angka tahun 1936 yang tertera di dinding masjid bukanlah tahun berdirinya, melainkan tahun renovasi. Pembangunan masjid ini mendahului pembangunan jembatan Kaujon, tepatnya pada tahun 1875. Sejak tahun 1936 hingga tahun 2002, Masjid Kaujon banyak mengalami renovasi. Diantaranya pembangunan pagar, jendela dan gudang, perbaikan musala wanita serta perbaikan bagian lainnya.

Masjid Kuna Kaujon secara administratif terletak di Jalan RM. HS. Jayadiningrat, Desa Kaujon Pasar Sore, Desa Serang, Kecamatan Serang, Kota Serang. Secara geografis terletak pada koordinat 06º 07′ 12.2″ Lintang Selatan dan 106º 08′ 09.83″ Bujur Timur. Masjid ini terletak di kawasan perumahan di sebelah selatan kompleks Kantor Gubernur Banten. Untuk menuju masjid melalui jalan K.H. Sam’un menyeberangi Sungai Cibanten, lalu keluar menuju jalan pedesaan. Di sebelah timur masjid terdapat aliran sungai Cibanten, sedangkan di belakang masjid terdapat rumah tinggal yang kini menjadi milik keluarga H. Mukhlis. Rumah ini merupakan bekas kediaman pejabat pribumi Pangreh Praja.

Baca Juga  Titikane Tembang Macapat Kajaba

Upaya Penyelamatan Sungai Citarum Yang Mulai Membuahkan Hasil

Komplek masjid pada kondisi saat ini merupakan komplek terbuka tanpa pagar halaman kecuali pada sisi timur. Di sisi timur terdapat gerbang masuk yang dilengkapi dengan tangga. Di bagian luar terdapat area terbuka yang merupakan bekas bangunan pancaniti. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat salat, pengumuman waktu imsaka dan keperluan lainnya. Bangunan masjid berdiri di atas pondasi masif setinggi 60 cm. Bagian luar masjid dihiasi jahitan berbentuk profil persegi bertingkat. Pintu masuk utama berada di tengah dengan dua pintu. Setelah memasuki pintu utama, Anda memasuki ruang depan, yaitu ruangan berbentuk persegi panjang berukuran 6 x 12 m. Kemudian Anda memasuki ruang utama masjid yang memiliki empat buah bujur sangkar berukuran 10 x 10 m. Disebelah selatan terdapat ruangan khusus wanita (pawestren). Ruang utama masjid dikelilingi tembok pada keempat sisinya. Dinding bagian bawah dilapisi keramik putih.

Di sisi barat terdapat mihrab tempat imam memimpin salat berbentuk relung. Pada sisi kanan dan kiri mihrab terdapat hiasan kolom semu, dua di kanan dan dua di kiri. Di bagian atas pilar semu terdapat hiasan nanas. Nanas yang berada di bagian atas kolom semu bagian dalam digambarkan sudah dikupas, sedangkan nanas yang berada di bagian atas kolom semu bagian luar tidak dikupas. Di atas mihrab dihiasi motif bunga yang ditata berbentuk melengkung berundak. Ujung dua hiasan melengkung terletak di atas hiasan motif nanas.

Hiasi nanas sesering mungkin

Berikut ini yang bukan merupakan cara menjaga kesehatan alat pernapasan yaitu, berikut ini bukan merupakan media sosial yang digunakan dalam pemasaran yaitu, yang merupakan software enterprise resources planning yaitu, berikut ini bukan merupakan tujuan manajemen hubungan pelanggan yaitu, berikut yang bukan merupakan tujuan pembangunan ekonomi yaitu, yang bukan merupakan syarat menunaikan zakat fitrah yaitu, yang bukan merupakan bentuk energi yaitu, bagian iklan yang merupakan ilustrasi utama yaitu, bahan yang bukan polimer yaitu, yang merupakan iklan media cetak yaitu, berikut ini bukan merupakan jenis pemasaran online yaitu, produksi antibodi monoklonal yang merupakan hasil pemanfaatan bioteknologi yaitu