Komunikasi Dapat Menghasilkan Kerjasama Apabila – Suka buku ini? Anda dapat menerbitkan buku Anda secara online secara gratis dalam hitungan menit! Buat flipbook Anda sendiri

36 Pedoman Komunikasi Risiko untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan 4.2. Analisis pemangku kepentingan. Pemangku kepentingan adalah semua individu, kelompok masyarakat, lembaga atau komunitas yang memiliki hubungan dan kepentingan dalam komunikasi risiko untuk penanggulangan krisis kesehatan masyarakat. Pada tahap awal perencanaan, perlu dilakukan identifikasi siapa saja yang terlibat dan berkepentingan dalam pengelolaan informasi risiko, mendaftar semua pihak yang secara langsung dan tidak langsung terlibat dalam ancaman krisis kesehatan masyarakat. Termasuk mereka yang membantu, menghadapi krisis kesehatan, maupun yang terkena dampak krisis kesehatan. Kemudian dilakukan analisis untuk menentukan: a. Mitra yang selalu diajak bekerja sama. B. Mitra baru yang potensial untuk diajak bekerja sama. C. Target audiens yang akan dituju (dibahas secara lebih rinci di subbagian 4.4). TIPS MENGANALISIS SITUASI INFORMASI RISIKO 1. Menilai ketersediaan materi informasi risiko yang ada dan yang hilang. 2. Penilaian kemampuan komunikasi nasional dan subnasional (individu dan sumber daya). 3. Tinjauan sistem informasi dan saluran informasi yang efektif, seperti ketersediaan Internet dan hotline. 4. Norma dan norma sosial yang ditanamkan oleh keluarga, teman sebaya, dan pasangan seringkali menjadi faktor kunci dalam penilaian individu saat mempelajari pengetahuan dan/atau perilaku baru. Misalnya, pencari nafkah utama mengambil semua keputusan, termasuk tentang mendapatkan vaksin COVID-19. 5. Apakah ada sistem untuk memantau berita/isu di media dan jejaring sosial, seperti media monitoring?

Komunikasi Dapat Menghasilkan Kerjasama Apabila

Pedoman Komunikasi Risiko untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan 37 d. Mereka yang tertarik, tetapi mungkin dianggap sebagai penghalang. d.Menarik, tetapi tidak penting untuk mengundang kerjasama. Semoga pemetaan dan analisis pemangku kepentingan tidak diabaikan oleh semua individu, kelompok masyarakat, lembaga dan komunitas yang perlu dilibatkan. Penting juga untuk memperhatikan kelompok khusus, seperti kelompok penyandang cacat dan minoritas. Dengan bantuan analisis ini, para pemangku kepentingan dapat dipilih untuk kolaborasi, target audiens dan mereka yang tidak terlalu penting untuk target kerja atau kegiatan. Contoh: Terjadi krisis kesehatan di desa X, penduduk desa tersebut mengalami diare dan muntah-muntah, sedangkan penduduk desa Y dan Z tidak mengalami diare dan muntah-muntah. Oleh karena itu, daftar pemangku kepentingan meliputi: kepala desa X, kepala desa adat X, kepala agama desa Z yang memiliki keluarga di desa X, kepala sesepuh desa X, masyarakat desa X yang menderita diare, kepala Puskesmas, supir ambulan yang hanya bisa menjangkau desa Y, Dompet Dhuafa, perusahaan swasta di desa X, warga tanpa diare dan muntah, Palang Merah Indonesia, media (wartawan), penegak hukum setempat dan lain-lain. Dari daftar di atas dapat dilakukan pemetaan sebagai berikut: • Stakeholder: Kepala desa X, kepala desa adat X, Dompet Duafa, media, kepala agama di desa Z, kepala puskesmas, aparat penegak hukum setempat, kepala dinas tua. masyarakat desa X. • Sasaran: warga desa X yang mengalami diare dan muntah-muntah. Pemangku kepentingan potensial yang dipilih untuk bekerja akan bervariasi tergantung pada situasi, kebutuhan dan lokasi. Penting untuk dicatat bahwa mitra yang dipilih akan membantu memastikan keberhasilan strategi komunikasi risiko. Perlu juga diperhatikan kapan

Baca Juga  Posisi Negara Filipina Dari Indonesia

Cara Bekerja Efektif Dan Efisien

38 Pedoman Komunikasi Risiko untuk Manajemen Krisis Kesehatan Ketika situasi bergerak dari pra-krisis ke tanggap darurat, analisis pemangku kepentingan perlu ditinjau. 4.3. Tujuan komunikasi risiko. Tujuan komunikasi risiko adalah untuk menginformasikan kepada masyarakat, khususnya khalayak sasaran, tentang bahaya kesehatan, sehingga berdasarkan informasi tersebut, khalayak sasaran dapat membuat keputusan tentang pencegahan dan perlindungan dari krisis kesehatan. . Untuk memungkinkan audiens target mengadopsi atau mengubah perilaku, tujuan akhir tertentu harus dipertimbangkan. Perilaku khusus apa yang diperlukan dari berbagai kelompok sasaran untuk memastikan tujuan tercapai? Merencanakan aktivitas komunikasi risiko strategis memerlukan tujuan komunikasi yang terperinci, terukur, terarah dan dalam konteks berdasarkan kerangka waktu tertentu. Dengan kata lain, tujuan komunikasi harus WAJAR, yaitu: • Spesifik: tidak terlalu umum, harus tepat dan spesifik tentang perilaku yang dimaksud. • Terukur: Dampak keberhasilan dapat diukur. • Benar: Perilaku yang diharapkan dari audiens target dilakukan dengan benar. • Relevansi: sesuai dengan kebutuhan target audiens. • Jangka waktu: kosong jika batas waktu. Contoh: Untuk menghindari lonjakan jumlah kasus COVID-19, wisatawan lokal diharapkan mengikuti aturan 3M (jaga jarak, pakai masker, cuci tangan pakai sabun) saat berkunjung ke Bali pada liburan tahun 2020.

Pedoman Komunikasi Risiko Penanggulangan Krisis Kesehatan Masyarakat 39 • Spesifik: Komunikasi ditujukan khusus kepada wisatawan lokal yang akan berlibur di Bali pada akhir tahun 2020 • Measurable: Dapat diukur dengan menghitung jumlah wisatawan lokal yang terpapar COVID-19. sebelum dan sesudah liburan di Bali. • Akurasi: 3 juta langkah (jaga jarak, pakai masker, cuci tangan pakai sabun). • Terkait: memerintahkan penerapan 3M sesuai kebutuhan agar tidak tertular COVID-19 dan mudah diterapkan oleh wisatawan lokal. • Time frame: off period di akhir tahun 2020. Ingatlah bahwa perubahan tujuan akan mengubah keseluruhan strategi. Semakin spesifik tujuan, semakin baik strategi komunikasi risiko didefinisikan. Yang benar-benar perlu Anda pikirkan adalah perubahan perilaku seperti apa yang ingin Anda capai. Tabel 4.1 memberikan contoh tujuan komunikasi pada setiap tahapan siklus krisis kesehatan.

Baca Juga  Sebutkan Tiga Arti Penting Proklamasi Kemerdekaan Bagi Bangsa Indonesia

40 Pedoman Komunikasi Risiko untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan Tabel 4.1. Contoh tujuan komunikasi risiko untuk setiap siklus krisis perawatan kesehatan. Tujuan dan strategi siklus krisis. Kerangka waktu yang spesifik, terukur, akurat, relevan. Tujuan komunikasi. Indikator pencapaian sebelum krisis • Kesadaran akan kemungkinan krisis kesehatan • Penyuluhan kesehatan • Advokasi pembentukan sistem komunikasi risiko di unit-unit strategis • Pelaksanaan kapasitas komunikasi risiko bagi petugas kesehatan di puskesmas Dua kali pertemuan dengan bupati dan kepala dinas dinas kesehatan untuk membahas sistem komunikasi di daerah sepanjang Januari-Februari 2021. Pelatihan 6 kali (setiap dua bulan) oleh tim komunikasi publik tentang risiko komunikasi bagi petugas kesehatan di Puskesmas kabupaten/kota antara Januari dan Desember 2021 Sebanyak 85 % pimpinan institusi pelayanan kesehatan telah memberikan komitmen berupa alokasi dana dan sumber daya untuk tahun 2021. Pada tahun 2021, sekitar 80% tenaga kesehatan Puskesmas di kabupaten/kota telah mendapatkan pelatihan/orientasi risiko. komunikasi (khususnya bidan, perawat, ahli gizi, ahli promosi kesehatan dan petugas sanitasi) • Perubahan perilaku agar waspada • Ilmu potensi bencana • Advokasi • Mitigasi • Merencanakan dan menyepakati peran dan tanggung jawab untuk kegiatan komunikasi risiko melalui SOP Rapat dengan kepala daerah dan oleh kepala dinas kesehatan kabupaten/kota untuk membahas kesiapan sistem komunikasi daerah untuk pencegahan dan kesiapsiagaan tahun 2021. Sebanyak 514 kabupaten/kota telah menerbitkan peraturan/kebijakan atau rencana darurat terkait kesiapsiagaan komunikasi krisis kesehatan masyarakat tahun 2022, yang meliputi unsur advokasi kebijakan, kampanye, komunikasi publik dan pelibatan masyarakat.

Panduan Komunikasi Risiko untuk Manajemen Krisis Kesehatan 41 Tujuan dan Strategi SMART Crisis Cycle Tujuan Komunikasi Khusus (Specific, Measurable, Precise, Relevan, Time-bound) Indikator Pencapaian Tanggap Darurat • Perubahan Perilaku Mengurangi Risiko • Membangun Kepercayaan • Mengembalikan kepercayaan • Memfasilitasi kolaborasi • Memperkuat kolaborasi masyarakat dengan Harian Puskesmas konferensi pers oleh juru bicara nasional kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk memberikan informasi terbaru tentang krisis kesehatan akibat bencana yang sedang berlangsung. Kepala Kesehatan mengadakan pertemuan tatap muka di rumah sakit setiap pagi untuk memberikan dukungan dan dorongan kepada staf kesehatan dan pendukung. Hanya dalam 3 bulan setelah pencabutan darurat, 75 konferensi pers diadakan, di mana 80% jurnalis yang diundang berpartisipasi. Hanya dalam 3 bulan setelah tanggap darurat, 75 pertemuan tatap muka diadakan di rumah sakit, dengan 80% staf medis dan pendukung berpartisipasi dalam pertemuan tersebut. Masa Pasca Krisis • Pemberian informasi dan pelatihan pemulihan Gubernur bersama kepala dinas kesehatan melakukan pelatihan perilaku pencegahan krisis kesehatan yang dihadapi secara berkala, misalnya setahun sekali. Dilaksanakan 5 acara yang dibarengi dengan konferensi pers tentang upaya pencegahan krisis kesehatan yang diikuti oleh 80% tenaga medis daerah dan puskesmas daerah. • Perubahan perilaku untuk mencegah penularan virus Dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota memberikan sosialisasi hidup bersih dan pentingnya cuci tangan pakai sabun sebelum makan setiap triwulan tahun 2021. 4 sosialisasi hidup bersih dan pentingnya cuci tangan pakai sabun sepanjang tahun 2021 regional /kabupaten/kota telah diberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Baca Juga  1 Rangkap Berapa Lembar

Riset Pengguna Jarak Jauh: Apa Itu Dan Cara Melakukannya

42 Pedoman Komunikasi Risiko untuk Penanggulangan Krisis Kesehatan 4.4. Menentukan target audiens Target audiens adalah orang/kelompok yang akan dituju sesuai dengan masalah dan prioritas tujuan. Menentukan target audiens dapat dilakukan dengan mengelompokkan sebagai berikut: • Geografi (lokasi wilayah) • Demografi (usia, jenis kelamin, pendidikan) • Sosiografi (status sosial dan ekonomi) • Psikografi (gaya hidup, nilai, kepercayaan, pendapat, sikap) ) Setelah analisis situasi, analisis pemangku kepentingan, dan penetapan tujuan komunikasi, saatnya memprioritaskan audiens target Anda. Contoh: Program vaksinasi COVID-19 untuk seluruh penduduk Indonesia dengan frekuensi 2 kali vaksinasi di fasilitas kesehatan sesuai jadwal. A. Coba evaluasi kelompok orang mana yang paling penting untuk mencapai tujuan ini? Ini disebut audiens target utama. B. Siapa/kelompok apa yang dapat secara langsung memengaruhi audiens target utama? Ini disebut audiens target sekunder. C. Siapa/institusi apa yang secara tidak langsung memengaruhi perilaku audiens sasaran utama? Ini disebut audiens target ketiga.

Pedoman Komunikasi Risiko Penanggulangan Krisis Kesehatan 43 Dari analisis contoh di atas, dapat diperoleh target audiens sebagai berikut: a. Sasaran utama • Kelompok masyarakat rentan berusia 60 tahun ke atas • Ibu dan ayah dari anak b. Audiens sasaran sekunder • Tenaga kesehatan • Pemimpin setempat • Tokoh agama setempat • Kelompok perempuan setempat, kelompok masjid atau gereja, dll. • Pengaruh media sosial • Penyebar penipuan c. Audiens target yang lebih tinggi

Game yang dapat menghasilkan uang, dapat menghasilkan, inseminasi buatan dapat berhasil apabila, apabila seseorang kekurangan vitamin b12 dapat mengakibatkan, aplikasi dapat menghasilkan uang, ginjal akan menghasilkan urine lebih banyak apabila, asam lambung dapat ditekan apabila mengonsumsi, garpu forklift dapat digunakan apabila, autoimunitas dapat terjadi apabila, aplikasi yang dapat menghasilkan uang, garpu pada forklift dapat digunakan apabila, eritroblastosis fetalis dapat terjadi pada janin apabila